18 Tahun Lalu Saya Mendarat di New York

Tepatnya 18 tahun yang lalu (September 1999) saya mendarat di Bandara JFK, New York, dan langsung menuju kota Queens untuk tempat penginapan sementara. Perjalanan dari Bandara memakan waktu sekitar 20 menit dan tanpa macet sore itu. Dengan memejamkan mata, menghirup sedalam-dalamnya udara beda dari kampung halaman, tersendat di dalam memori sampai sekarang dan ingat bahwa yang membuat udara berbau beda di tanah rantau ini adalah dari jenis pepohonan dan tipe polusi di sekitarnya.

New York adalah salah satu kota yang memberi banyak pengalaman dan memori. Di kota padat ini saya bertemu istri, menikah, anak pertama lahir, kerjaan yang bermacam-macam, pentas dari teater seperti LaMama (off-off-Broadway) sampai Lincoln Center, dan masih banyak lagi.

Tapi yang paling berkesan adalah semakin saya meresa jauh dari tanah air dan terdampar di sebelah bagian bumi, saya merasa lebih aktif dengan hal-hal kebudayaan Indonesia.

Ini beberapa aktifitas saya di teater selama berada di New York. Nama saya tidak tercantum di beberapa postcard dan poster ini tapi mendapatkan peran yang lumayan berat.

Si ganteng di sampul ini bukan foto saya, tapi teman saya yang bernama Tom Lee.

Aktiftas teater terakhir dan terbesar saya ada pada pertunjukan berjudul Gadjah Mada di Lincoln Center pada tahun 2002. Ide awal bermula dari pacar saya (sekarang istri!) , Christina, untuk mengadakan pertunjukkan tari budaya Indonesia dan mencari para penari dari berbagai latar belakang berbeda-beda karena New York adalah kota campur aduk. Dan dibantu oleh Indonesain Enterprise dan KJRI di New York, kami bisa medapatkan lokasi pertunjukkan di Alice Tully Hall, Lincoln Center. Tiket terjual habis dan pertunjukkan berjalan lancar.

New York benar-benar kota yang sangat dinamis dan tidak pernah tidur. Selama kita mau bekerja keras, kesempatan tidak ada batasnya.

 

Comments

comments